Malam belum begitu larut, ketika istriku meminta untuk memijat punggungnya hingga ke pinggang. Usia kehamilannya yang sudah tua dan hanya menunggu hari kelahiran sang bayi, menyebabkan kepayahan yang luar biasa pada istriku. Tanpa membuka daster coklat yang istriku kenakan, pelan-pelan aku mengurut punggung hingga pinggang dengan tidak terlalu keras. Mungkin lebih tepatnya seperti sedang mengelus-elus. Istriku berbaring miring ke kanan, sementara telapak tanganku bergerak pelan dari sisi kiri punggung kemudian kebawah kearah pinggang dengan jari-jariku melakukan pijatan lembut. Sejenak kami berdua terdiam tenggelam dalam pikirin masing-masing. Menambah hening rumah yang hanya kami huni berdua. Terasa sepi, anak pertama kami masih dalam kandungan, dan rumah tanpa pembantu.
Pernikahan kami telah berusia hampir setahun dan saat ini kami sedang menunggu saat-saat bahagia menanti kelahiran sang buah hati. Setelah beberapa menit aku memijat punggungnya, tiba-tiba istriku merasa kesakitan perutnya. Aku memegangnya dengan lembut dan terasa ada gerakan yang cukup lincah di dalam perut. Memang akhir-akhir ini, gerakan bayi kami semakin sering bahkan hanya berselang beberapa jam saja. Kemudian aku mengambil minyak kayu putih dan membalurkannya ke perut istriku. Dengan lembut aku mengelus dan memijat dengan lembut perut yang besar dan bulat itu. Istriku menggigit bibirnya menahan sakit seakan menahan sakit yang teramat sangat.
“Aduuuhhh! Sakit mas,” kata istriku sedikit menjerit
“Iya dik!, sabar ya,” kataku berusaha memenangkan.
Aku terus mengelus perutnya sambil meniup perutnya beberapa kali dan membalurinya dengan minyak kayu putih. Sebenarnya Aku tidak tahu, apakah minyak kayu putih bisa mengobati sakit perut karena kontraksi bayi. Tetapi atas permintaan istri, itulah yang selalu aku lakukan untuk menghilangkan kesakitan akibat kontraksi. Terasa gerakan sang bayi melemah, dan kontraksipun berhenti. Istriku mulai tenang dan terlihat lelah di raut wajahnya.
Malam beranjak larut dan kesunyian terasa menyergap kamar tidur kami. Terdengar suara kernyit cecak yang mencari mangsa dan sayup terdengar tiang listrik dipukul penjaga malam tanda waktu tengah malam beranjak. Kuperhatikan istriku yang sudah mulai terlelap, dan akupun menyelimuti badanya hingga hanya tersembul kepalanya saja. Perlahan kurebahkan badanku yang lelah disamping istriku. Rasa kantuk segera menyergap menenggelamkanku dalam lelap mimpi malam. Menghantarkan keindahan dalam balutan khayalan lahirnya sang buah hati diantara pernikahan kami.
******************************
Mas! bangun mas! perutku sakit sekali!, rintih istriku sambil menggoyangkan badanku agar aku cepat bangun.
Lelap tidurku segera pergi dan rasa kantuk mendadak hilang. Kulihat istriku memegangi perutnya sambil menekuk badannya. Aku kasihan sekali melihatnya. Kontraksi bayi itu mungkin semakin hebat. Kulirik jam dinding di kamar tidurku menunjukkan jam 02.15.
“Mas, aku sudah tidak tahun lagi. Kita ke Bidan saja. Mungkin sudah waktunya,” pinta istriku.
Tanpa banyak bicara lagi, aku membangunkan istriku dari ranjang. Sambil membawa tas yang berisi perlengkapan melahirkan yang beberapa hari ini sudah disiapakan istriku. Aku menuntunnya ke luar rumah melewati ruang tamu dan mendudukannya di sofa. Kemudian aku mengeluarkan motor bututku yang akan kugunakan untuk mengantarkan istriku ke Bidan. Setelah semuanya siap aku pelan-pelan memboncengkan istriku ke Bidan Kamil yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah kami.
Sampai di Bidan Kamil, sorang perempuan muda segera menolang istriku. Dia memeriksa kondisi istriku. Dengan cemas aku menunggu di ruang tunggu. Detik demi detik menanti kabar tentang keadaan istriku. Tak berapa lama perempuan muda yang ternyata bidan muda di situ mendatangiku.
“Pak, kondisi istri Bapak sampai saat ini baik-baik saja. Kesakitan itu disebabkan kontraksi bayi yang mau lahir. Sekarang baru pembukaan tiga.” kata Bidan itu
Aku menanyakan ke Bidan itu apa itu pembukaan tiga. Kemudian dia menerangkan apa yang dimaksud pembukaan tiga itu. Ternyata agar bayi dapat lahir, jalan kelahiran akan mengalami fase hingga pembukaan sepuluh.
“Anakku bisa lahir normal kan mbak? Tidak perlu operasi sesar kan? tanyaku
“Insya Allah lahir normal saja Pak. Semuanya baik-baik saja kok,” kata bidan itu
“kira-kira lahirnya jam berapa tuh?
“Wah kalau itu masih lama pak. Bisa diatas jam 2 siang. Tapi tergantung sih cepat tidaknya pembukaanya,” Bidan menerangkan
Kemudian Bidan masuk ke ruang pemeriksaan, aku pun ikut kedalam. Kulihat istriku sudah tenang. Atas saran bidan daripada menunggu lama, kami pulang saja dahulu. Dan agar pembukaan jalan kelahiran semakin cepat disarankan agar istriku melakukan aktivitas menyapu atau kegiatan ringan lainnya. Tidak hanya tidur saja. Terus terang aku merasa kesal, bagaimana orang kesakitan malah diminta kerja.
Kami pun beranjak pulang. Sesampai di rumah istriku terus mengalami sakit dengan intensitas yang makin sering. Tak tega rasanya melihatnya. Ingin rasanya aku ikut merasakan sakit itu. Kalau mungkin, ingin aku menggantikan beban dan kepayahan yang teramat besar itu. Aku berusaha membesarkan hati dan memupuk kesabaran istriku. Inilah fase yang dia harus lewati. Inilah kemuliaan seorang ibu diperlihatkan. Kami hanya berdua menikmati saat-saat menanti kelahiran anak kami, meski sakit istriku terus menerus hadir diantara kami. Rupanya bayi kami tidak sabar ingin mengenal dunia dan bertemu muka dengan kedua orang tuanya.
******************************
Sekitar jam 6 pagi, aku melihat kepayahan istriku yang semakin parah bahkan jalan pun sudah tidak sanggup lagi, aku memanggil abang becak untuk membawa kami ke Bidan Kamil. Sesampai disana, kami diterima oleh Bidan muda yang tadi pagi menolong istriku. Detik demi detik, jam demi jam kami menunggu kelahiran bayi kami. Rintihan istri yang menahan sakit akibat kontraksi semakin terdengar.
“Mbak, Bidan Kamil dimana? Kok dari tadi aku tidak melihatnya,” tanyaku
“Oh, Bidan Kamil lagi umrah. Nanti ada Bidan pengganti kok,” jawab Bidan muda itu
Ada rasa khawatir ketika ternyata Bidan Kamil tidak ada. Tetapi begitu disebutkan ada penggantinya, aku mulai tenang. Tak berapa lama Bidan muda itu memeriksa istriku yang makin sering merintih dan berkata tidak kuat lagi menahan.
“Pak, sudah waktunya pak. Ternyata ini lebih cepat yang aku perkirakan,” kata Bidan itu
“Loh, tapi Bidan pengganti Bidan Kamil belum datang, kataku dengan khawatir
“Gak ada waktu pak. Sudah aku saja dengan Bapak yang menolong persalinan ini,” jawabnya meyakinkan
Aku bingung. Khawatir dan rasa takut mulai menyelimutiku. Ku pandangi wajah Bidan muda itu. Dia memandangiku juga seakan ingin meyakinkan bahwa kita berdua mampu.
“Ayo pak, tidak ada waktu lagi. Yakinlah Pak, semua dapat berjalan lancar. Bismillah saja”, katanya menyakinkan lagi
Bismillah!. Dengan sedikit ada rasa ragu aku mengikuti apapun instruksi Bidan muda ini. Pelan-pelan rasa keraguan, kekhawatiran itu semakin hilang. Gerakan Bidan muda yang cekatan dan kesabaran bidan muda ini membimbing istriku dalam melahirkan menumbuhkan keberanianku untuk ikut menolong persalinan istriku. Inilah pertama kali dalam hidupku melihat orang melahirkan bayinya. Dan ini adalah istri dan anak pertamaku. Bidan muda ini terus memberikan instruksi, semangat dan motivasi dengan sabar. Tangan istriku dengan erat memegang erat tanganku. Gengaman tanganku terasa keras sekali mencengkram lenganku. Sesekali istriku mengeluh sakit yang teramat sangat.
“Astaghfirullah. Mas sakit sekali mas! kata istriku mengaduh.
Aku hanya bisa menahan gemuruh di dada. Airmata di kantong mataku terasa sudah terisi penuh. Melihat istriku yang mulai menetes air mata di sudut matanya, membuatku juga tak tahan untuk ikut meneteskan airmata. Istriku terus beristighfar untuk menambah kekuatan dalam melahirkan. Aku diinstruksikan oleh bidan muda itu memegang kaki istriku.
Waktu terasa lambat berjalan. Jam terasa berhenti. Detik demi detik terekam jelas proses persalinan istriku yang hanya ditolong oleh Bidan muda dan dibantu olehku. Rintihan dan lantunan istighfar menjadi lantuanan nada indah yang mengantarkan kelahiran bayi sang buah hati. Begitu jelas, proses keluarnya anakku dari rahim ibunya aku saksikan tanpa rasa takut lagi. Rasa takut itu terasa tercerabut dari pikiranku. Yang ada hanya ketabahan dan kesabaran menanti lahirnya rahmat Tuhan ini. Dalam hati aku merasa takjub dengan keajaiban yang Tuhan perlihatkan kepadaku hari itu. Bagaimana bayi sebesar itu pelan dan pasti berjuang untuk bisa lahir ke dunia. Sungguh menggetarkan.
Alhamdulillah, jam 10.59 pagi putriku lahir. Setelah mengalami masa yang menegangkan dan luar biasa. Rasa khawatir dan bahagia bercampur menjadi satu. Dan sungguh suatu keajaiban itu telah aku saksikan. Putriku yang masih merah itu didekap sebentar oleh ibunya untuk dapat menyusui dini. Dengan penuh kasih sayang dan bahagia yang teramat sangat, istriku mendekapnya dan berusaha menyusuinya. Tak berapa lama putriku dipisahkan dari ibunya untuk dibersihkan. Kemudian setelah dimandikan dan diselimuti diserahkan kepadaku. Lantunan kalimat adzan dan iqomah aku bisikan di kedua telinganya. Setelah itu aku serahkan kepada ibunya. Terasa hari ini sangat bahagia dengan kelahiran putri kami.
Tak berapa lami, bidan muda itu mendekati kami dan meminta putri kami untuk ditidurkan dahulu. Dan proses berlanjut dengan menjahit jalan kelahiran istriku. Rupanya penderitaan itu belum berakhir. Istriku merasa kesakitan yang saat proses penjahitan itu. Aku memeluk istriku untuk mencoba mengurangi rasa sakit itu. Aku terus berusaha membesarkan hati istriku. Terus memberi semangat dan motivasi kesabaran, inilah kemuliaan seorang ibu. Istriku mulai bisa menguasai dirinya. Sambil melihat putrinya yang dibaringkan di ranjang sampingnya. Istriku tersenyum. Senyum kebahagian seorang ibu, wanita termulia di bumi.

Bandung Time